
Ekskavator Diduga Kembali Keruk Hutan Aranio, Aktivitas PETI Disorot Warga
STORYBANUA.COM, BANJAR – Aktivitas alat berat yang diduga melakukan pengerukan di kawasan hutan salah satu desa di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kembali menjadi sorotan.
Dari rekaman video yang beredar, tampak memperlihatkan aktivitas tersebut beredar melalui media sosial, Rabu (9/9/2026).
Dalam video yang diterima, berdurasi sekitar 52 detik dan 53 detik, tampak alat berat jenis ekskavator beroperasi melakukan pengerukan tanah.
Aktivitas itu diduga berkaitan dengan praktik pertambangan emas tanpa izin (PETI). Namun, sampai berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi yang memastikan status legalitas kegiatan maupun pihak yang bertanggung jawab atas pengoperasian alat berat tersebut.
Salah seorang warga yang ditemui menyebut aktivitas pertambangan diduga kembali berjalan sejak akhir Agustus 2026.
Warga tersebut bahkan mengungkap dugaan adanya pihak tertentu yang memberikan perlindungan terhadap aktivitas tersebut.
“Diduga ada yang membekingi. Saya memperkirakan aktivitas ini bisa berlangsung sekitar dua tahun. Ada zona khusus untuk lokasi pertambangan tersebut,” ujarnya.
Ia meminta identitasnya tidak dipublikasikan karena alasan keamanan.
Menurut keterangan warga, jumlah alat berat yang berada di kawasan tersebut diperkirakan mencapai puluhan unit. Alat berat yang disebut berada di lokasi memiliki beragam ukuran, mulai dari unit berukuran kecil hingga berukuran besar.
Tak hanya soal aktivitas pertambangan, warga juga mengungkap dugaan adanya oknum pejabat desa yang menerima sejumlah uang dari pihak pengusaha. Namun, informasi tersebut masih sebatas keterangan narasumber dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Dugaan keterlibatan pihak tertentu maupun dugaan aliran uang tersebut karena itu perlu ditelusuri lebih lanjut melalui pemeriksaan dan konfirmasi kepada pihak-pihak yang disebutkan.
Kekhawatiran warga tidak berhenti pada persoalan legalitas. Aktivitas pengerukan di kawasan hutan dinilai berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan apabila tidak dilakukan sesuai ketentuan, termasuk terhadap kondisi tanah, vegetasi, serta aliran sungai di sekitar kawasan wisata Batu Balian.
Warga meminta pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta instansi teknis terkait segera turun ke lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Apakah aktivitas tersebut memiliki izin? Siapa pemilik alat berat yang beroperasi? Dan apakah benar terdapat pihak tertentu yang memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut?
Sejumlah pertanyaan itu kini menunggu jawaban dari pihak berwenang.

